Yogyakarta Siap Menjadi Tuan Rumah ICW General Assembly

Yogyakarta Siap Menjadi Tuan Rumah ICW General Assembly yang mana ICW adalah bagian UN Women dalam memberdayakan perempuan di seluruh dunia dan siap menjadi tuan rumah ke 35 Majelis Umum Dewan Perempuan Internasional (ICW) dan Kongres Nasional 1.000 Organisasi Perempuan Indonesia yang akan diadakan hingga 20 September.

Berita Nasional – Ribuan peserta, termasuk beberapa tokoh wanita terkemuka, akan menghadiri Acara back-to-back yang diselenggarakan oleh Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang bekerja sama dengan 35 badan usaha milik negara.

“Ini adalah salah satu kepercayaan dunia kepada Indonesia sebagai tuan rumah, sehingga acara tersebut harus sukses,” kata ketua panitia penyelenggara acara Gatot Subagio di Jakarta, Selasa.

Presiden ICW Kim Jun-sook dari Korea Selatan serta delegasi dari banyak negara telah tiba di Yogyakarta untuk menghadiri acara yang akan dibuka oleh Presiden Indonesia Jokowi Widodo pada hari Kamis. Panitia telah mendirikan tenda besar di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, untuk upacara pembukaan acara, yang akan dihadiri oleh sekitar 1.500 orang, serta pusat media yang menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi yang dioperasikan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia dan Kantor Berita Antara sebagai mitra media resmi, keduanya adalah perusahaan milik negara.

Serangkaian acara ICW telah dimulai oleh rapat dewan direksi pada tanggal 11 hingga 12 September, acara pembukaan pada 13 dan diikuti oleh Kongres Nasional 1.000 Organisasi Perempuan pada 14. Sesi Majelis Umum ke-35 ICW dengan tema “Mengubah Masyarakat Melalui Perempuan Pemberdayaan “akan diadakan pada tanggal 14 hingga 18 September, diikuti dengan kunjungan lapangan ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah pada 18-19 September, di mana hasil dari pertemuan tersebut akan dinyatakan dalam kompleks desa wisata yang dioperasikan oleh 20 negara Indonesia- perusahaan yang dimiliki.

Sebagai acara sampingan, panitia telah menyelenggarakan Bazaar Kepulauan, di mana para peserta dan tamu dapat berbelanja dan membeli pakaian berbagai mode, tekstil tradisional, aksesoris, perhiasan, kerajinan, makanan dan minuman, dan banyak lagi lainnya dari Indonesia, yang juga bisa dibeli dengan metode online “O2O” offline.

Sidang Umum ICW ke-35 diadakan bersamaan dengan peringatan peringatan ke-130 ICW yang dibentuk di Washington DC pada tanggal 25 Maret 1888. ICW adalah bagian dari UN Women dalam memberdayakan perempuan di seluruh dunia.

Sementara itu, Ketua Kongres Perempuan Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menjelaskan ia membutuhkan setidaknya enam tahun atau dua periode lagi untuk dipilih sebagai presiden organisasi perempuan. Dia memberi contoh wanita Indonesia Kuraisin Sumhadi yang pernah menjadi Presiden ICW untuk periode 1994-1997, setelah dua periode atau enam tahun sebelum menjabat sebagai Wakil Presiden ICW.

“Tidak mungkin menjadi direktur utama ICW karena tiga tahun lalu di Turki saya terpilih sebagai koordinator komunikasi Komite Keanggotaan Tetap ICW. Sekarang saya hanya bisa dipilih untuk duduk di dewan direksi,” kata Giwo di sini di Selasa.

Dewan Direksi ICW 2015-2018 saat ini terdiri dari Presiden ICW Jungsook Kim (Korea Selatan), lima Wakil Presiden yaitu Elisabeth Newman dan Hean Bee Wee (Australia), Doris Bingley (Malta), Lina Liu (Taiwan), dan Christine Knock ( Selandia Baru), Bendahara ICW Martine Marandel (Prancis), Sekretaris ICW Nabiye Isin Atala (Turki), dan dua anggota Dewan Direksi ICW Fatos Inal (Turki) dan Jamal Gibril Hermes (Lebanon).

Selain Dewan Direksi, dalam struktur ICW juga ada Anggota Komite Tetap, mengenai status perempuan, pembangunan berkelanjutan, kesejahteraan umum, komunikasi, dan masalah sosial.

Dua perempuan Indonesia yang juga pengurus Kowani, Giwo Rubianto dan Hadriani Uli Silalahi, masing-masing sebagai Koordinator Komite Tetap Komunikasi dan Koordinator Komite Tetap untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Selain itu ada juga wanita Indonesia, yang juga merupakan pengurus Kowani, yaitu Charletty Choesyana Taula yang menjadi penasihat dalam urusan penuaan di Standing Committee on Social Issues.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *