Tekad Melanjutkan Pelaksanaan Proyek Jalan Trans Papua

Tekad Melanjutkan Pelaksanaan Proyek Jalan Trans Papua dengan tekad dan menyatakan “Kami terus menangani kelompok-kelompok itu sesuai dengan prosedur yang ada,” katanya, seraya menambahkan bahwa polisi tidak akan pernah menembak para pembunuh tanpa mengikuti standar operasi, tambahnya.

Berita Nasional.co – “Insya Allah (God Willing), minggu depan, pembangunan jembatan dan jalan (Trans-Papua) akan dilanjutkan,” kata marshal di Timika, Kabupaten Mimika, Papua, pada 6 Desember 2018.

TNI dan Polisi Indonesia (Polri) akan membentuk tim keamanan bersama untuk menjaga pekerjaan konstruksi jembatan dan jalan di Nduga.

Pulau Papua yang beristirahat telah diberi status otonomi khusus. Namun, tampaknya program pembangunan belum memenuhi harapan publik, meskipun pemerintah telah membentuk Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) pada tahun 2012 untuk meningkatkan pembangunan Papua.

Tantangan di Papua, rumah bagi kawasan hutan yang luas dan utuh dan salah satu tambang emas terbesar di dunia, sangat kompleks. Gangguan keamanan cukup menjadi masalah, tetapi pemerintah pusat telah memutuskan untuk menangani masalah ini secara profesional.

Sebanyak 30 petugas polisi telah ditembak mati dan 57 orang terluka oleh anggota kelompok kriminal dan separatis selama 10 tahun terakhir (2008-Juni 2018) di Papua.

Selain polisi, total 78 warga sipil ditembak mati, dan 117 lainnya terluka oleh kelompok terlarang di Papua, menurut Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, kepala Polisi Provinsi Papua, dalam sebuah pernyataan tentang refleksi keamanan dari semester pertama 2018, pada 3 Juli 2018.

Pada bulan Oktober 2017, sekitar 1,3 ribu orang, terdiri dari lebih dari 850 penduduk asli Papua dan 346 pekerja migran, telah disandera oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di beberapa desa di Tembagapura, Mimika, selama sekitar tiga minggu.

Satuan tugas gabungan militer dan polisi Indonesia berhasil membebaskan mereka dan mengusir para penyandera pada 17 November tahun lalu.

Tahun ini, sejumlah guru juga dilaporkan diculik dan diperkosa oleh anggota kelompok kriminal bersenjata. Keamanan Indonesia kemudian berhasil melepaskan dan menyelamatkan para korban.

Kasus terakhir adalah ketika 15 guru diculik selama 14 hari (3-17 Oktober 2018), dan beberapa dari mereka diperkosa oleh kelompok kriminal yang dipimpin Egunius Kogoya yang menewaskan para pekerja konstruksi di Nduga.

Meskipun ada tantangan keamanan, kegiatan pembangunan di Papua harus terus berjalan sesuai dengan program pemerintah.

Personil keamanan akan menjaga perusahaan, termasuk perusahaan milik negara, melaksanakan pekerjaan konstruksi di Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *