Sepanjang Malam Petugas Bekerja Menghitung Surat Suara Kurang Dibayar

Sepanjang Malam Petugas Bekerja Menghitung Surat Suara Kurang Dibayar, Banyak komite kerja TPS bekerja sepanjang malam mempersiapkan dan menghitung suara untuk pemilihan presiden dan legislatif pada 17 April.

Berita Nasional.co – Khalid Syaifullah, kepala KPPS di kabupaten Kuranji di Padang, Sumatra Barat, mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa dia maupun timnya tidak tidur selama 29 jam karena mereka harus menyelesaikan penghitungan suara dan menyelesaikan laporan pemilihan.

“Saya belum tidur satu menit sejak saya tiba di TPS kemarin sore,” kata Khalid, Kamis pagi. “Mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan laporan dan menyerahkannya ke komite pemilihan kabupaten [PPK] pada jam 11 pagi,” katanya.

Ini bukan pertama kalinya Syaifullah melakukan tugas Bandar judi Togel Dingdong Online yang begitu penting. Pria berusia 40 tahun ini telah melakukan tugas untuk KPPS sejak rezim Orde Baru.

Pemilihan umum menandai pemilihan satu hari terbesar di dunia. Lebih dari 190 juta orang Indonesia diperkirakan telah memilih di lebih dari 800.000 tempat pemungutan suara di seluruh negeri, dengan 5 juta orang berjaga di tempat pemungutan suara untuk menghitung dan melaporkan hasil pemilihan.

Menurut Syaifullah, di antara kendala dalam penghitungan dan pelaporan hasil pemilu adalah kesulitan yang timbul saat memeriksa surat suara. Beberapa pemilih, kata Syaifullah, tidak menusuk surat suara dengan benar sehingga tanda itu tidak terlihat, yang mengakibatkan anggota komite harus memeriksa setiap surat suara dengan seksama untuk menghindari kesalahan.

Kendala lain adalah penghitungan suara legislatif sebagai dokumen penghitungan suara terdiri dari 20 lembar.

Di TPS yang dikoordinasi Syaifullah, yang memiliki 138 pemilih, penghitungan suara dimulai pukul 2 malam. dan berakhir pada pukul 11 ​​malam Setiap suara dihitung pada formulir.

Hasanah, kepala KPPS di kabupaten Ciomas di Bogor, Jawa Barat, mengatakan dalam pemilihan umum tahun ini, proses penghitungan suara memakan waktu lebih lama daripada dalam pemilihan umum 2014 karena melibatkan lebih banyak surat suara. Lima tahun lalu, orang pergi ke tempat pemungutan suara pada hari yang berbeda untuk memilih calon presiden dan legislatif.

Kelompoknya menyelesaikan penghitungan pada jam 5:30 pagi pada hari Kamis, 16 jam setelah pemilihan, jauh lebih lama dari pada tahun 2014 ketika penghitungan selesai sebelum tengah malam pada hari pemilihan.

“Menjadi lebih sulit untuk melihat tanda pada surat suara pada malam hari saat kami mengantuk. Menyelesaikan laporan pemilihan juga rumit,” katanya, seraya menambahkan bahwa timnya telah bekerja sepanjang malam sehari sebelum pemilihan melaksanakan persiapan.

Di Batam, Kepulauan Riau, banyak pejabat KPPS harus bekerja sepanjang malam karena penundaan dalam kotak suara dan pengiriman surat suara di 500 tempat pemungutan suara di lima kabupaten.

Tiur Boru Napitupulu, seorang anggota KPPS di Kabupaten Bengkong, mengatakan bahwa ia telah membantu di TPS dari jam 6 pagi hingga 11 malam. waktu setempat, dengan sedikit bayaran.

“Kami juga harus menghadapi pemilih yang mengeluh karena mereka tidak menerima surat suara mereka dan tidak dapat memilih tepat waktu,” kata Tiur, Kamis.

Tiur juga mengatakan dia belum menerima pembayaran, meskipun pemilihan telah berakhir.

Menurut Tiur, staf akan menerima Rp 500.000 (US $ 35,54) untuk pekerjaan mereka.

“Mungkin kita akan menerima bayaran tambahan karena kita bekerja lembur,” kata Tiur.

Hasanah mengatakan bahwa dia berharap mereka yang terpilih dapat dipercaya dan bersedia melayani rakyat, sehingga pekerjaan jutaan orang tidak akan sia-sia.

“Kami benar-benar tidak perlu gaji yang lebih baik atau apa pun. Sudah cukup bahwa para pemimpin melakukan pekerjaan mereka. Ada rasa bangga melihat pemilu berjalan dengan baik,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *