Sektor Manufaktur Untuk Menggerakkan Perekonomian Indonesia

Sektor Manufaktur Untuk Menggerakkan Perekonomian Indonesia, pemerintah yakin sektor manufaktur akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia dan karenanya akan fokus pada pengembangannya dalam lima tahun ke depan.

Berita Nasional.co – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan pengembangan sektor manufaktur sangat penting untuk meningkatkan potensi pertumbuhan PDB Indonesia dan, setidaknya, mempertahankan pertumbuhan dalam jangka panjang.

“Kita perlu memfokuskan kembali pada sektor manufaktur. Manufaktur adalah prasyarat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ”kata Bambang di Jakarta baru-baru ini.

Laporan bersama oleh Asian Development Bank (ADB) dan Bappenas memperkirakan bahwa Indonesia akan melihat tingkat pertumbuhan rata-rata 6,31 persen antara tahun 2020 dan 2024 di bawah “skenario yang baik”. Skenario ini memproyeksikan bagian pekerjaan di sektor manufaktur meningkat secara bertahap selama periode tersebut menjadi 20 persen dari angkatan kerja pada tahun 2024.

Di bawah “skenario buruk”, yang mengasumsikan pangsa lapangan kerja di sektor manufaktur akan sedikit menurun hingga 13 persen, laporan tersebut memperkirakan tingkat pertumbuhan PDB potensial Indonesia mencapai rata-rata 5,52 persen antara tahun 2020 dan 2024.

Sektor manufaktur Indonesia mempekerjakan 14,72 persen dari tenaga kerja, menurut data Statistik Indonesia (BPS) dari Agustus 2018, sementara sektor pertanian tetap menjadi pemberi kerja utama negara dengan menggunakan 28,79 persen tenaga kerja.

Mengembangkan sektor manufaktur juga penting untuk mengurangi ketergantungan negara pada ekspor berbasis komoditas mentah dengan kompleksitas yang relatif rendah dan keterkaitan dengan industri lain.

Ketergantungan negara pada komoditas rentan terhadap perubahan harga di pasar dan karenanya memberikan ekonomi Indonesia platform yang lebih lemah dibandingkan dengan produk hilir dari ekspor berbasis manufaktur, kata Bambang.

Menteri mengatakan rencana pembangunan jangka menengah (RPJMN) berikutnya, yang sedang disusun oleh Bappenas, akan menekankan pada penciptaan nilai tambah dalam ekonomi, khususnya di sektor manufaktur, sehingga negara tersebut dapat melakukan diversifikasi produk ekspornya.

“Dengan menciptakan nilai tambah, kita dapat berpartisipasi lebih banyak dalam rantai nilai global. Kompleksitas produk kami akan meningkat karena nilai tambah yang lebih tinggi, ”kata Bambang. “Itulah gagasan strategi manufaktur kami.”

Langkah pertama dalam mengembangkan sektor manufaktur adalah untuk meningkatkan kompleksitas mengekspor sumber daya alam Indonesia, yang berarti mengembangkan lebih banyak produk hilir mengingat kelimpahannya di negara ini serta kehadirannya yang utama dalam data perdagangan negara tersebut, kata Bambang.

Data yang dikumpulkan dari Bappenas mengungkapkan bahwa lebih dari 30 persen ekspor Indonesia pada tahun 2018 berasal dari sektor berbasis komoditas seperti batubara, minyak sayur dan lemak, gas alam, serta minyak bumi dan produk turunannya.

Penasihat ADB dalam penelitian ekonomi dan departemen kerja sama regional, Jesus Felipe, mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan swasta di sektor manufaktur sangat penting untuk mengidentifikasi masalah yang menghambat pengembangan sektor serta produk ekspor baru.

“Pemerintah perlu memulai dialog dengan sektor swasta untuk bersama-sama mengidentifikasi dan mengatasi hambatan bagi pengembangan sektor manufaktur modern. Sangat penting bagi para pembuat kebijakan dan sektor swasta untuk berkolaborasi dalam menemukan produk-produk baru dan lebih canggih yang dapat berhasil didiversifikasi ke Indonesia, ”katanya.

Direktur jendral ADB untuk departemen Asia Tenggara, Ramesh Subramaniam, sependapat, mengatakan kolaborasi sektor publik dan swasta sangat penting dalam menentukan arah pekerja yang meningkatkan keterampilan agar lebih sesuai dengan tuntutan industri seiring dengan perkembangan sektor manufaktur.

Kepala ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan mengatakan pemerintah perlu memiliki kebijakan komprehensif yang diarahkan pada subsektor tertentu dari industri manufaktur untuk mengembangkan industri ini secara lebih efektif.

“Kami tidak dapat benar-benar melayani kepentingan semua orang, tetapi kami harus memilih jenis kebijakan [yang perlu diarahkan],” kata Anton.

Dia juga menekankan perlunya pemerintah untuk memastikan iklim bisnis yang menguntungkan untuk menarik investasi baru di sektor manufaktur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *