Presiden Menghadiahkan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia

Presiden Menghadiahkan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia Upacara penghargaan diadakan sebagai bagian dari seri peringatan Hari Pahlawan Nasional 2018.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara di Jakarta pada hari Kamis.

Berita Nasional.co – Enam tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2018 adalah almarhum Abdurrahman Bawesdan dari Yogyakarta, almarhum Agung Hajjah Andi Depu dari Provinsi Sulawesi Barat, dan Depati Amir dari Provinsi Bangka Belitung.

Tiga tokoh lainnya yang dianugerahi gelar pahlawan adalah almarhum Kasman Singodimejo dari Provinsi Jawa Tengah, mendiang Pangeran Mohammad Noor dari Provinsi Kalimantan Selatan, dan mendiang Brigadir Jenderal KH Syam’un dari Provinsi Banten.

Presiden menghadiahkan gelar pahlawan nasional di Istana Negara pada hari Kamis melalui Keputusan Presiden Nomor 123 / TK / 2018, tertanggal 6 November 2018, tentang Pemberian Judul Pahlawan Nasional. Upacara penghargaan diadakan sebagai bagian dari seri peringatan Hari Pahlawan Nasional 2018.

Presiden menghadiahkan gelar pahlawan kepada Almarhum Abdurrahman Baswesdan adalah kakek dari Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan seorang tokoh, yang berjuang untuk menjadikan keturunan Arab sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Lahir pada tanggal 9 September 1908, di Surabaya dan dibesarkan di Yogyakarta, Baswedan telah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan melalui gerakan dengan menerapkan cita-cita untuk menciptakan Indonesia yang mandiri dan berdaulat.

Dia melakukan perjuangannya melalui dunia jurnalistik, dengan tulisan-tulisannya di surat kabar serta partisipasi melalui Partai Arab Indonesia. Dia juga anggota Panitia Kerja Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Almarhum Agung Hajjah Andi Depu adalah aktor sejarah Indonesia dan sosok perempuan, yang tetap berdedikasi tinggi dan setia pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dia adalah sosok perempuan dari Sulawesi Barat, lahir pada 19 Agustus 1908, dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dengan memobilisasi dan berkoordinasi semaksimal mungkin para pemuda untuk melawan kolonialisme di Indonesia.

Mendiang Depati Amir adalah pemimpin perlawanan terhadap Belanda pada periode 1830-1851. Dia berhasil memasukkan kombinasi penduduk lokal dan komunitas orang asing atau penambang Cina.

Pahlawan, yang judulnya diusulkan oleh masyarakat Provinsi Bangka Belitung, telah menerapkan perlawanan melalui perang gerilya dengan Belanda selama dua dekade.

Almarhum Kasman Singodimejo adalah seorang tokoh Muhammadiyah, yang mempersatukan bangsa selama proses ratifikasi UUD 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan.

Dia berhasil memenangkan hati kelompok Islam Ki Bagus Hadikusumo untuk menghilangkan kata-kata tambahan setelah “Percaya pada satu Tuhan” dalam prinsip pertama ideologi negara Pancasila.

Konsep aslinya adalah “Percaya pada satu Tuhan dengan kewajiban Muslim untuk mempraktekkan hukum Islam.” Kata-kata tambahan ini dihilangkan karena ditolak oleh perwakilan dari Indonesia bagian timur.

Almarhum Ir H Prince Mohammad Noor adalah seorang tokoh, yang telah berjuang bersama dengan orang-orang untuk mempertahankan kemerdekaan sejak belajar di THS Bandung sampai ia menjadi anggota “Jong Islamieten Bond.”

Sebagai gubernur yang berbasis di Yogyakarta, Mohammad Noor melakukan pelatihan militer bagi pemuda untuk dikerahkan di medan perang melawan Belanda di Kalimantan.

Sementara itu, almarhum Brigadir Jenderal KH Syam’un adalah seorang tokoh, yang berjuang melalui pendekatan pendidikan dengan mendirikan pesantren dan mengangkat senjata melawan Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *