Petani Muda Diharap Bekerja Mengembalikan Popularitas Jeruk Garut

Petani Muda Diharap Bekerja Mengembalikan Popularitas Jeruk Garut melalui Rizal Fahreza yang seorang petani muda berprestasi dengan fokus menghidupkan kembali popularitas jeruk Garut, buah tanda tangan di kota kelahirannya di provinsi Jabar. Garut jeruk adalah ikon Kabupaten Garut dan bagian logo pemda Garut.

Berita Nasional – Sejak tahun 1980, keberadaan jeruk Garut telah terancam punah karena serangan Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), yang dapat menghancurkan tanaman jeruk di wilayah tersebut, yang kemudian membuat banyak petani menjauh dari menanam buah jeruk.

Dengan meningkatnya kekhawatiran tentang kondisi pertanian jeruk di daerah Garut, Rizal, bersama dengan seniornya di Institut Pertanian Bogor (IPB) Achmad Syamsudin, yang juga mentornya, memulai bisnis pertanian jeruk. Bersama-sama mereka berjuang untuk mengembalikan popularitas jeruk keprok (jeruk keprok) dan jeruk siam (siam jeruk).

“Garut jeruk hampir tidak punya masa depan; Garut jeruk adalah kemenangan yang hanya patut diingat; Garut jeruk adalah kisah masa lalu, yang biasanya diceritakan dalam pertemuan sebelum maghrib [doa malam],” kata Rizal.

Lahir di Garut pada 8 Mei 1991, Rizal adalah alumnus jurusan agronomi dan hortikultura di IPB School of Agriculture (Faperta).

Dimulai ketika ia masih belajar di IPB pada tahun 2012, Rizal dan Achmad melakukan penelitian bersama pada komoditas buah nusantara, salah satunya adalah jeruk, kemudian mereka setuju untuk mengembangkan jeruk sebagai tanaman utama.

“Saya sudah banyak berdiskusi dengan Pak Achmad Syamsudin terkait dengan tanaman jeruk, dan ternyata kami memiliki visi dan misi yang sama untuk pertanian di Indonesia. Akhirnya kami berkolaborasi untuk menanam jeruk. Di lapangan, saya juga mendapat dukungan dari ayah saya, Dikdik Sontani, yang juga seorang petani, “kata Rizal.

Akhirnya pada tahun 2014, setelah menyelesaikan studinya di IPB, Rizal kembali ke kampung halamannya di Garut dan mulai merintis usahanya menanam jeruk di area seluas 2 hektar. Bagian dari tanah adalah tanah milik pribadi, sedangkan sisanya adalah plot komunitas yang beroperasi di bawah sistem sewa. Terletak di Jl. Raya Cikajang di desa Leuwi Ereng.

Ketika Rizal semakin sibuk mengelola lahan jeruknya, ia memiliki kesempatan pada awal 2015 untuk mengambil bagian dalam Program Magang Pertanian Internasional melalui Program Ohio (TOP), yang merupakan kolaborasi antara IPB dan Ohio State University di Amerika Serikat, Ia juga ditempatkan di California selama 13 bulan.

Sementara di AS, Rizal menjalani magang, kursus singkat, simposium dan seminar di tujuh kampus terkenal di negara itu dan mengunjungi 35 industri pertanian.

Setelah kembali dari AS pada Maret 2016, Rizal mengelola pertanian jeruk dengan fokus pada produksi. Selama periode 2016-2017, terjadi panen jeruk besar-besaran dan jeruk dipasarkan ke Bogor di Jawa Barat, Jakarta dan di luar Pulau Jawa.

Namun, Rizal mengatakan biaya logistik dan transportasi untuk mengirim jeruk ke wilayah ini sangat mahal, hampir 23 persen lebih tinggi. Untuk meningkatkan efisiensi dan menghasilkan lebih banyak pendapatan, perkebunan jeruk menjadi tujuan wisata.

“Saya melihat [bahwa] peluang di bidang pariwisata cukup menjanjikan, karena jumlah wisatawan yang berkunjung ke Garut meningkat 2 juta per tahun dan tren terus meningkat. Akhirnya pada tahun 2016, saya mendirikan taman pendidikan yang disebut EPTILU atau 3F [Fresh From Farm ], “Kata Rizal.

Kegiatan pertanian yang dimulai dengan kebun produksi dan kebun penelitian kini telah berkembang menjadi taman pendidikan EPTILU.

Kebun pendidikan juga membuka peluang kerja bagi kaum muda di desa, dengan sekitar 22 bekerja pada musim reguler dan 37 selama liburan. Sementara itu, 400 pengunjung mengunjungi situs tersebut setiap minggu.

Rizal saat ini juga bekerja untuk mengembangkan 75 ha kebun jeruk di enam kecamatan di seluruh kabupaten Garut, sebuah rencana yang mendapat dukungan dari pemerintah daerah Garut.
       
Dengan kerja keras dan impian besar untuk memajukan pertanian di Indonesia, Rizal terpilih pada tahun 2017 untuk mewakili Indonesia di ASEAN Youth Social Entrepreneurship Award, dalam acara perayaan 50 tahun ASEAN yang diadakan di Manila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *