Muslim Mengambil Jalan Hukum Kasus Pembakaran Bendera

Muslim Mengambil Jalan Hukum Kasus Pembakaran sebuah bendera berlogo tawheed yang dibakar oleh anggota Banser di Garut, Senin.
Para peserta reli tauhid (Laa Ilaha Ilallah, keesaan Tuhan) meninggalkan gedung Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan secara bertahap. Demonstrasi yang dimulai pukul 13.00 WIB pada hari Jumat (26 Oktober) berjalan tertib.


Berita Nasional.co – Sekretaris Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan, Agus Surya Bakti menerima perwakilan massa di kantornya sekitar pukul 14.00 WIB. Dia mengatakan semua aspirasi yang disampaikan oleh perwakilan dari aksi yang dipimpin oleh ustaz Yusuf Martak telah diterima.

“Aspirasi telah dicatat dan akan diserahkan ke Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan,” tambah Agus, Jumat (27 Oktober).
Tindak pembelaan tauhid ini diprakarsai oleh sejumlah organisasi Islam yang bergabung dan menamai diri mereka sebagai Barisan Nusantara Pembela Tauhid (BNPT) untuk menanggapi insiden yang terjadi di Garut, Jawa Barat. Keputusan untuk menahan aksi tersebut dipicu oleh penolakan GP Ansor untuk meminta maaf atas kasus pembakaran bendera tauhid.

“Tadi malam, organisasi muslim mengambil tindakan dengan berkumpul dan setelah pernyataan GP Ansor, kami lebih bersemangat untuk melakukan aksi ini,” kata ketua sebuah kelompok yang menyebut diri mereka sebagai Alumni 212, Slamet Ma’arif.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa bendera yang dibakar dalam insiden itu adalah bendera tauhid. Tidak ada simbol organisasi yang dibubarkan, Hizbut Tahrir Indonesia, simbol di bendera. MUI juga meminta pelaku insiden untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka kepada umat Islam.

Salah satu peserta aksi pertahanan tauhid, Kamaluddin mengatakan insiden pembakaran bendera tidak harus diulang di masa depan. Dia ingin para pelaku meminta maaf.
Sementara itu, reli lainnya juga dipentaskan di depan kantor GP Ansor di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Menurut anggota Nahdlatul Ulama M Jamaluddin, misa datang ke kantor GP Ansor sekitar pukul 15.00 WIB. Namun demikian, tidak ada gesekan yang terjadi karena perwakilan dari kedua belah pihak mampu mengelola anggota masing-masing.

“Akhirnya kami bertemu dengan habib untuk mengkondisikan massa, kami juga saling merangkul,” kata Jamaluddin.

Ketika kantornya dikelilingi massa, Jamaluddin membenarkan bahwa salah satu anggota GP Ansor meninggal. Namun, penyebab kematiannya adalah karena kelelahan setelah begadang semalaman.

“Itu tidak benar (karena bentrokan), dia meninggal sebelum shalat Ashar,” tambah Jamaluddin.

Bendera yang memuat tulisan Arab Tauhid dibakar oleh beberapa anggota sayap pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) pada Hari Santri Nasional pada 22 Oktober di Garut, Jawa Barat.

Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, tauhid (tauhid), yang berarti “kesatuan (Tuhan),” adalah konsep kesatuan monoteisme yang tak terpisahkan dalam Islam dan konsep sentral dan tunggal terpenting agama, yang di atasnya seluruh keyakinan umat Islam berada.

Insiden itu dikutuk oleh berbagai ulama Islam dengan alasan bahwa bendera yang berisi tulisan Tauhid biasanya digunakan oleh Nabi Muhammad (saw).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *