Kompensasi Diberikan Pemerintah Kepada Korban Serangan Gereja St. Lidwina

Kompensasi Diberikan Pemerintah Kepada Korban Serangan Gereja St. Lidwina, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah membagikan uang kompensasi kepada para korban serangan teroris di gereja St. Lidwina di Sleman, Yogyakarta.

Berita Nasional.co – Pada bulan Februari, seorang pria menyerang pengunjung gereja dengan pedang pada hari Minggu pagi di gereja Katolik, melukai imam dan beberapa anggota jemaat.

Albertus Magnus Budijono, yang menerima luka parang parah di lehernya, mengumpulkan Rp 370 juta (US $ 25.305) sebagai kompensasi dari LPSK, sementara Yohanes Trianta, yang menerima luka di dahinya, mendapat Rp 241 juta. Martinus Parmadi Subiyantara, yang mengalami cedera lengan, menerima Rp 585.000.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab negara terhadap warga negara Bandar Judi Togel Dingdong Online dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” kata wakil ketua LPSK Lili Pintauli Siregar saat penyerahan kompensasi di Kantor Gubernur Yogyakarta, Jumat.

Lili mengatakan, memberikan uang kompensasi kepada para korban terorisme adalah mandat UU No. 31/2014 tentang LPSK dan UU No. 5/2018 tentang terorisme, yang mewajibkan negara untuk melindungi para korban dan membantu pemulihan medis dan psikologis mereka.

Usulan kompensasi korban dimasukkan dalam dokumen dakwaan terhadap Suliyono, penyerang, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Tiga korban adalah saksi dalam persidangan.

Selain menghukum Suliyono 15 tahun penjara pada 16 Oktober, pengadilan juga mengabulkan permintaan uang kompensasi bagi para korban.

Koordinator tim advokasi untuk saksi dan korban serangan gereja St. Lidwina, Suki Ratnasari, mengatakan sebenarnya ada empat korban dalam serangan itu, tetapi Pastor Karl Edmund Prier menolak untuk bersaksi di persidangan.

Lili mengatakan, memberikan uang kompensasi kepada para korban terorisme adalah mandat UU No. 31/2014 tentang LPSK dan UU No. 5/2018 tentang terorisme, yang mewajibkan negara untuk melindungi para korban dan membantu pemulihan medis dan psikologis mereka.

“[Prier] menolak menjadi saksi karena dia tidak berada di negara itu ketika persidangan berlangsung,” katanya, seraya menambahkan bahwa semua korban telah menerima perlindungan dari LPSK.

Budijono, yang menghabiskan dua bulan di rumah sakit untuk pulih dari cedera, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah.

“Pemerintah selalu ada untuk membantu kami sejak awal,” katanya. (vny)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *