Bank Mengembangkan Teknologi Untuk Tetap Relevan

Bank Mengembangkan Teknologi Untuk Tetap Relevan, Bank berusaha mengejar gelombang digitalisasi dengan menjadi lebih inovatif dan mutakhir dalam kehidupan pelanggan mereka di tengah persaingan dengan pemain teknologi finansial (fintech), yang menawarkan fitur pembayaran yang mudah dengan birokrasi yang lebih sedikit.

Klydemart – Bank-bank besar tidak ragu untuk menghabiskan banyak uang untuk mengembangkan platform digital, yang diharapkan dapat membantu pelanggan mengelola keuangan mereka.

Beberapa contohnya adalah pemberi pinjaman swasta Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dan Bank Central Asia (BCA), yang keduanya meluncurkan fitur “keyboard” baru di aplikasi ponsel mereka.

Pelanggan BTPN dan BCA tidak perlu mengoperasikan aplikasi seluler Jenius atau BCA di ponsel mereka selama transaksi perbankan, yang berarti bahwa cara orang berinteraksi dengan teknologi menjadi lebih mulus dan lancar karena aplikasi sekarang lebih ramah pelanggan.

BTPN, yang baru-baru ini bergabung dengan pemberi pinjaman Jepang Bank mengembangkan Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI), memperkenalkan fitur keyboard di platform digital Jenius yang sudah dikenal.

Sejak diluncurkan dua tahun lalu, Jenius memiliki 1,2 juta pengguna, dengan 70 persen pelanggannya tinggal di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia.

“Jenius memberikan solusi keuangan. Gaya hidup adalah yang utama, sementara solusi finansial menjadi pemungkin [untuk meningkatkan kehidupan masyarakat], ”kata Irwan Sutjipto Tisnabudi, wakil kepala perbankan digital BTPN, baru-baru ini. Bank mengembangkan layanan layanan ini.

Mirip dengan apa yang ditawarkan oleh Jenius, fitur keyboard yang diluncurkan oleh BCA memungkinkan pelanggan untuk melakukan transaksi perbankan sambil mengobrol tanpa perlu mengoperasikan aplikasi seluler BCA di ponsel mereka.

BCA menjamin keamanan fitur keyboardnya karena tidak memiliki sistem memori yang dapat merekam apa pun jenis pelanggan ke dalam ponsel mereka, kata Wakil Presiden Direktur BCA Armand Hartono dalam acara baru-baru ini di Tangerang, Banten.

Namun, Keyboard BCA hanya tersedia untuk Android saat ini.

Sebelum fitur keyboard, BCA, pemberi pinjaman swasta terbesar di negara itu, meluncurkan QRku dan OneKlik, yang masing-masing menawarkan kode respons cepat (QR) dan teknologi pembayaran tanpa kartu.

Dalam penelitiannya terhadap 2.055 responden di 11 kota besar di Indonesia, firma analisis data Nielsen Indonesia menemukan bahwa orang-orang muda, terutama yang termasuk generasi X, Y dan Z, serta baby boomer, melihat solusi perbankan online dengan cara yang positif.

Dari penelitian, 72 persen responden melihat solusi perbankan online sebagai sesuatu yang inovatif, 61 persen melihatnya sebagai sesuatu yang dapat diandalkan, sementara 60 persen berpikir bahwa perbankan digital meningkatkan kenyamanan.

Studi ini menunjukkan bahwa semua generasi memandang digitalisasi sebagai enabler untuk meningkatkan kehidupan mereka, terutama dalam komunikasi, hiburan, dan keuangan. Dalam memilih bank digital mana yang akan digunakan, konsumen mementingkan harga, keamanan dan inovasi, kata penelitian itu.

Pemberi pinjaman swasta DBS Indonesia, bagian dari kelompok keuangan DBS Singapura, juga mengambil bagian dalam tren melalui platform digitalnya Digibank, yang memungkinkan pelanggan untuk membuka rekening mereka dan melakukan pembayaran tanpa harus pergi ke kantor cabang bank.

Ketika DBS pertama kali meluncurkan Digibank pada tahun 2017, DBS hanya dapat memperoleh 100 pelanggan per hari, tetapi sekarang DBS dapat menarik 1.000 pengguna Digibank per hari.

Melihat meningkatnya persaingan dengan bank-bank lain dalam inovasi digital, BCA mengklaim dapat tetap unggul karena sudah memiliki sejumlah besar pelanggan.

“Bank-bank lain dapat dengan mudah menyalin pengembangan digital baru, tetapi kami memiliki massa kritis. Sekarang, kami memiliki 18 juta pelanggan dan lebih dari 400.000 pedagang, ”kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Jahja sebelumnya mengatakan BCA telah mengalokasikan Rp 5,2 triliun untuk peningkatan TI tahun ini, termasuk Rp 1 triliun yang disisihkan untuk pengembangan perbankan digital.

Saat ini, 97 persen transaksi BCA terjadi melalui saluran digital, bukan kantor cabang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *