Alumni Canisius College Menyatakan Dukungan Pasangan Jokowi-Ma’ruf

Alumni Canisius College Menyatakan Dukungan Pasangan Jokowi-Ma’ruf, Alumni terkemuka dari Canisius College di Jakarta telah menyatakan dukungan untuk pasangan Joko “Jokowi” Widodo-Ma’ruf Amin dan bersumpah untuk berjuang melawan penyebaran tipuan dan berita palsu dalam kampanye untuk presiden yang berkuasa dan pasangannya.

Berita Nasional.co – Di antara para alumni adalah Ginandjar Kartasasmita, Airlangga Hartarto, Wimar Witoelar, Agus Gumiwang Kartasasmita, Prof. Harijono Djojodiharjo, Akbar Tanjung, Sofyan Wanandi dan J. Wishenda.

Acara deklarasi diadakan di museum Gedung Joeang 45 di Jakarta Pusat pada hari Minggu. Acara ini juga dihadiri oleh anggota senior kampanye Jokowi seperti sekretaris jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Jenderal Hasto Kristiyanto,

Alumni dari sekolah-sekolah lain di Jakarta, seperti Pangudi Luhur, SMAN 7, SMAN 3, De Deittitt College, dan SMAN 6 juga menghadiri acara politik tersebut.

“Hanya para pemimpin yang dapat melayani rakyat yang dapat memajukan Indonesia lebih jauh. Dan Pak Jokowi telah membuktikan kemampuannya untuk melakukan itu,” kata Irlan Suud, kepala komite deklarasi.

“Alasan [pemilih] untuk memilih Jokowi adalah karena kami sudah berpengalaman. Alumni Kanisius seperti Agus Gumiwang dan saya berpartisipasi dalam kontrol pemerintah, jadi itu wajar [bagi kami untuk memilih Jokowi],” kata Airlangga, yang menteri industri saat ini dan ketua partai Golkar.

Untuk membantu Jokowi memenangkan pemilihan di ibukota, kelompok itu memperkenalkan slogan #JokowikanJakarta (#MakeJakartaJokowi) dan bersumpah untuk memerangi berita palsu yang menargetkan Presiden yang sedang duduk.

“Pemilihan dimenangkan dalam kotak suara, tidak dengan suara berisik dan berita palsu,” kata alumni Kanisius College Wimar Witoelar.

Wimar adalah pendiri Intermatrix Communications dan mantan juru bicara selama era Gus Dur “Gus Dur” Wahid.

Dia mengatakan para pemilih harus mempertahankan “pikiran yang waras” dan fokus pada kualitas para kandidat, bukan pada kebohongan yang berputar di sekitar mereka.

Presiden Jokowi mengklaim bahwa dia telah menjadi korban penipuan dan kampanye kotor yang menargetkan keyakinannya, latar belakang dan kebijakannya setelah dia terpilih sebagai presiden pada tahun 2014.

Jokowi sering digambarkan sebagai anti-Islam dan terhubung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sekarang sudah tidak ada. Presiden telah berulang kali membantah tuduhan itu.

Awal tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) melaporkan beberapa orang karena menyebarkan informasi online palsu bahwa tujuh kontainer surat suara dari China telah ditemukan di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Surat suara, mereka mengklaim palsu, telah ditusuk untuk Jokowi.

Sebuah studi tahun 2018 oleh portal berita IT Daily Social menunjukkan bahwa 57 persen pengguna internet Indonesia menerima informasi palsu melalui aplikasi messenger, mendorong Facebook dan WhatsApp untuk menggunakan enkripsi dan membatasi penerusan pesan.

Beberapa inisiatif online telah membantu memerangi penyebaran berita palsu, termasuk tagar #AkuSiapBersikap (I’mReadytoTakeAStand), grup Facebook Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax (Forum Melawan Fitnah, Sedisi dan Tipuan) dan sistem pengecekan fakta seperti turnbackhoax situs web .id dan aplikasi Hoax Buster di Google PlayStore. (mai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *